Twin flame.

Twin flame.
Illustration

Pernah gak lu bertemu dengan twin flame? Kalau lu belum tahu, twin flame itu sering dibilang sebagai seseorang yang bukan cuma cocok sama lu, tapi seperti cermin paling jujur dari diri lu sendiri. Bukan sekadar soulmate yang saling melengkapi, tapi dua jiwa yang terasa seperti berasal dari sumber yang sama, dengan luka, ego, dan cahaya yang serupa. Gw pernah ketemu orang seperti itu. Seseorang yang sangat amat mencerminkan diri gw. Cara dia berpikir, cara dia melihat dunia, bahkan cara dia terluka, terasa familiar. Seolah gw sedang duduk berhadapan dengan versi lain dari diri gw sendiri.

Di awal semuanya terasa menyenangkan. Intens. Dalam. Obrolan kami seperti tidak pernah habis. Ada rasa dimengerti tanpa harus menjelaskan terlalu banyak. Ada koneksi yang sulit dijelaskan dengan logika. Tapi justru karena terlalu mirip, semuanya juga jadi terlalu tajam. Luka gw memicu lukanya. Ego gw memantulkan egonya. Ketakutan gw bertemu dengan ketakutannya. Rasanya seperti bercermin terlalu lama sampai mulai tidak nyaman melihat bayangan sendiri.

Hubungan itu bukan cuma tentang kebahagiaan, tapi juga tentang konflik. Tentang melihat sisi diri yang selama ini gw hindari. Dan mungkin kami belum cukup dewasa untuk menghadapinya. Pada akhirnya, gw tidak bertemu dia lagi. Kami putus kontak begitu saja. Tidak ada penutupan yang dramatis. Tidak ada percakapan panjang penuh penjelasan. Hanya jarak yang perlahan menjadi permanen. Sampai sekarang, kami tidak pernah berkomunikasi lagi.

Yang menyakitkan bukan cuma kehilangan orangnya. Tapi kehilangan versi diri gw saat bersama dia. Versi yang lebih hidup. Lebih terbuka. Lebih berani merasa. Kadang gw masih bertanya-tanya, apakah dia benar-benar twin flame atau hanya pelajaran yang datang dalam bentuk manusia. Tapi satu hal yang gw tahu, pertemuan itu mengubah gw. Karena setelah bertemu seseorang yang terasa seperti cermin, lu tidak pernah benar-benar bisa kembali jadi versi lama dari diri lu.

Tapi mungkin memang begitu takdir twin flame. Datang bukan untuk tinggal, tapi untuk membakar. Membakar ilusi. Membakar ego. Membakar bagian diri yang harus mati supaya kita tumbuh.

Dan yang tersisa sekarang hanya kenangan tentang seseorang yang terasa seperti rumah, tapi tidak pernah benar-benar jadi tempat tinggal.