Semua orang punya cerita, termasuk gw. Tapi untuk waktu yang lama, gw merasa cerita gw biasa saja. Gak cukup dramatis. Gak cukup menyedihkan. Gak cukup membanggakan. Seolah hidup gw terlalu datar untuk dianggap penting. Sampai akhirnya gw sadar, hidup bukan soal seberapa heboh ceritanya, tapi seberapa jujur lu berani melihatnya. Dan blog ini lahir dari kejujuran itu.

Gw bikin blog ini bukan karena gw sudah sampai di titik tertentu. Justru karena gw belum sampai mana-mana. Gw masih di tengah perjalanan. Masih belajar. Masih salah. Masih jatuh dan bangun dengan cara yang kadang memalukan. Buat gw, hidup adalah eksperimen panjang yang hasilnya gak pernah benar-benar pasti. Kadang gw merasa percaya diri, seolah tahu arah dan tujuan. Kadang di hari lain, semuanya terasa kabur. Gw mempertanyakan keputusan gw sendiri, mempertanyakan nilai diri gw, bahkan mempertanyakan apakah semua usaha ini ada artinya.

Semakin gw bertambah usia, semakin gw sadar satu hal yang pahit. gak ada yang benar-benar peduli hidup lu selain lu sendiri. Orang bisa mendukung, bisa menyemangati, bisa bilang mereka ada. Tapi pada akhirnya, ketika lampu kamar mati dan pikiran mulai berisik, yang harus menghadapi semuanya tetap lu. Dunia gak berhenti hanya karena lu lelah. Dunia gak melambat hanya karena lu sedang hancur.

Dan dunia memang gak adil.

Ada orang yang lahir dengan jalur lebih mudah. Ada yang berusaha setengah mati tapi tetap tertinggal. Ada yang tulus tapi ditinggalkan. Ada yang gak peduli tapi selalu diprioritaskan. Semakin gw melihat sekitar, semakin gw sadar bahwa keadilan bukan sesuatu yang dijanjikan. Ia bukan hak yang otomatis lu dapatkan. Kadang ia gak datang sama sekali.

Dulu gw kira dewasa itu cuma soal bertambah umur dan tanggung jawab. Ternyata dewasa adalah tentang menerima kenyataan yang gak nyaman. Tentang menerima bahwa gak semua orang akan tinggal. Tentang menerima bahwa sebaik apa pun lu memperlakukan seseorang, mereka tetap bisa pergi kapan saja.

Sejak 2024 sampai sekarang, gw kehilangan banyak orang. Ada yang pergi secara fisik. Ada yang pergi karena keadaan. Ada yang pergi tanpa penjelasan. Dan setiap kehilangan meninggalkan ruang kosong yang berbeda. Kehilangan itu bukan cuma tentang orangnya yang hilang. Tapi tentang kebiasaan yang ikut hilang. Tentang suara yang gak lagi terdengar. Tentang rasa aman yang pelan-pelan terkikis.

Orang bisa pergi kapan saja. Tanpa aba-aba. Tanpa persiapan. Tanpa kesempatan buat lu benar-benar siap.

Awalnya gw marah. Gw bertanya-tanya kenapa harus gw. Kenapa harus sekarang. Tapi lama-lama gw capek sendiri. Karena kenyataannya, hidup gak punya kewajiban menjelaskan apa pun ke lu. Ia berjalan saja. Terus. Tanpa kompromi.

Ada hari-hari di mana gw merasa benar-benar sendirian. Bukan karena gak ada orang di sekitar gw, tapi karena gw sadar bahwa pada akhirnya, semua orang sibuk dengan perjuangannya masing-masing. Semua orang punya beban sendiri. Semua orang sedang menyelamatkan dirinya sendiri. Dan itu membuat gw sadar bahwa gw juga harus belajar menyelamatkan diri gw sendiri.

Gw orang yang melankolis. Pikiran gw mudah tenggelam. Malam yang sepi bisa berubah jadi ruang interogasi. Lagu tertentu bisa membuka kembali luka yang sudah gw kubur. Saat kesepian datang, rasanya seperti berdiri di ruangan besar tanpa jendela. Pikiran berputar tanpa henti. Overthinking jadi kebiasaan. Gw mempertanyakan nilai diri gw. Apakah gw cukup. Apakah gw layak dipertahankan. Apakah gw hanya persinggahan sementara dalam hidup orang lain.

Yang paling melelahkan adalah menyadari bahwa kadang jawabannya gak pernah jelas.

Gw sering iri melihat orang yang diprioritaskan. Yang dicari lebih dulu. Yang dirindukan. Karena jujur, gw jarang merasakan itu. Kadang rasanya seperti gw selalu jadi opsi kedua. Hadir, tapi gak utama. Dekat, tapi gak pernah benar-benar dipilih.

Mungkin itu sebabnya gw haus perhatian. Bukan karena gw manja. Tapi karena ada bagian dalam diri gw yang hanya ingin diyakinkan bahwa keberadaan gw berarti. Bahwa kalau gw hilang, ada yang benar-benar merasa kehilangan.

Tapi di tengah semua pemikiran itu, gw juga belajar sesuatu yang keras. Kalau memang gak ada yang benar-benar peduli hidup lu selain lu sendiri, maka lu gak punya pilihan selain peduli pada diri lu sendiri lebih dari siapa pun. Lu harus jadi orang yang tetap berdiri ketika yang lain pergi. Lu harus jadi tempat pulang untuk diri lu sendiri.

Dan itu gak mudah.

Gw masih belajar. Masih goyah. Masih sering berharap ada seseorang yang benar-benar tinggal tanpa syarat. Gw masih berdoa supaya dipertemukan dengan orang-orang yang tulus. Mungkin gak banyak. Mungkin cukup dua atau tiga. Orang yang gak pergi ketika versi gw sedang gak menyenangkan. Orang yang memilih bertahan bukan karena butuh, tapi karena mau.

Sementara itu, gw menulis.

Tulisan jadi cara gw berbicara ketika gak ada yang benar-benar mendengar. Tulisan jadi saksi bahwa gw pernah merasa hancur tapi tetap mencoba. Gw menulis tentang mindset, tentang produktivitas, tentang teknologi, tentang membangun sesuatu dari nol. Tapi di balik itu semua, sebenarnya gw sedang membangun diri gw sendiri. Sedang mencoba membuktikan bahwa meskipun dunia gak adil, gw masih bisa memilih untuk terus berjalan.

Tapi menulis bukan satu-satunya cara gw bertahan.

Gw juga lari ke gym. Bukan cuma buat bentuk badan, tapi buat ngerasain sakit yang bisa gw kontrol. Angkat beban itu sederhana. Beratnya jelas. Repetisinya jelas. Kalau capek, gw tahu kenapa. Kalau otot gw sakit, gw tahu penyebabnya. Berbeda sama hidup yang kadang bikin sesak tanpa penjelasan. Di gym, rasa lelah terasa jujur. Setiap keringat seperti bukti kalau gw masih berusaha.

Selain itu, gw gambar. Kadang tanpa tujuan. Kadang cuma garis-garis random yang akhirnya membentuk sesuatu. Menggambar bikin pikiran gw pelan-pelan tenang. Seolah semua yang berantakan di kepala bisa dipindahin ke kertas. Gak selalu jadi karya bagus. Tapi cukup buat jadi ruang aman.

Musik juga jadi pelarian. Lagu tertentu bisa memeluk gw tanpa banyak tanya. Ada malam-malam di mana gw cuma duduk, pakai headset, dan membiarkan lirik berbicara mewakili isi kepala gw. Musik gak menyelesaikan masalah, tapi ia membuat gw merasa ditemani.

Dan film. Gw suka tenggelam dalam cerita orang lain. Selama dua jam, gw bisa berhenti jadi diri gw sendiri. Bisa ikut merasakan konflik, kehilangan, kemenangan, atau kehancuran karakter lain. Aneh rasanya, tapi melihat dunia fiksi kadang membantu gw memahami dunia nyata. Atau seenggaknya, memberi gw jeda.

Semua itu mungkin terlihat seperti pelarian. Dan memang iya. Tapi kadang manusia butuh pelarian untuk bisa kembali. Gw gak lari untuk menyerah. Gw lari supaya gak meledak. Supaya besoknya gw masih punya tenaga buat menghadapi dunia yang sama.

Karena pada akhirnya, meskipun gak ada yang benar-benar peduli hidup lu selain lu sendiri, gw masih memilih untuk menjaga hidup gw. Dengan tulisan. Dengan beban yang gw angkat. Dengan garis yang gw gambar. Dengan lagu yang gw putar berulang-ulang. Dengan film yang gw tonton sendirian.

Itu cara gw bertahan.

Gw percaya motivasi itu rapuh. Ia datang ketika semuanya baik-baik saja, lalu menghilang saat dibutuhkan. Tapi konsistensi adalah keputusan. Keputusan untuk tetap muncul walaupun sedang gak ada yang menyemangati. Keputusan untuk tetap bergerak walaupun gak ada yang memperhatikan. Keputusan untuk tetap hidup sepenuhnya meskipun sadar bahwa orang bisa pergi kapan saja.

Blog ini bukan tempat untuk terlihat kuat. Ini tempat untuk terlihat nyata. Dengan semua luka, semua kehilangan, semua rasa takut ditinggalkan. Karena pada akhirnya, menjadi dewasa adalah tentang menerima bahwa dunia gak berutang apa pun kepada lu. Gak ada keadilan. Gak ada kepastian. Gak ada jaminan seseorang akan tinggal.

Yang ada hanya waktu yang terus berjalan.

Kalau lu membaca ini dan merasa relate, mungkin kita sama-sama sedang belajar satu hal yang sama. Bahwa meskipun gak ada yang benar-benar peduli hidup kita selain diri kita sendiri, itu bukan alasan untuk berhenti. Itu alasan untuk jadi lebih kuat. Lebih sadar. Lebih bertanggung jawab atas arah hidup sendiri.

Kalau lu mau, tinggalin jejak.
Supaya gw tahu bahwa di dunia yang terasa gak adil ini, masih ada dua manusia yang seenggaknya sama-sama berusaha bertahan.

Dan kalau suatu hari nanti semua orang benar-benar pergi, seenggaknya gw tahu gw gak pernah berhenti mencoba menjadi seseorang yang tetap tinggal untuk dirinya sendiri.